Electrified

02/01/2026

Mobil Hybrid Toyota Paling Laris Periode Januari-November 2025, Siapakah Dia?

Penjualan Hybrid Electric Vehicles (HEV) sepanjang Januari-November 2025 sudah tembus 57.311 unit. Dikutip dari Detik.com, sales mobil hybrid mencatatkan kenaikan sekitar lima persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. 

Pertumbuhan ini menegaskan mobil hybrid masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia sebagai "jembatan" menuju era kendaraan listrik. Mobil ini juga terbukti paling relevan karena sesuai demografi Indonesia dan lifestyle masyarakat.

Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Toyota menjual mobil hybrid paling banyak dengan penjualan tembus 27.802 unit. Pemimpin penjualan mobil hybrid di Indonesia adalah Kijang Innova Zenix HEV. MPV ini terdistribusi sebanyak 22.195 unit.

Posisi lima besar ditempati oleh Yaris Cross Hybrid EV. SUV ini terdistribusi sebanyak 2.997 unit sepanjang tahun 2025, menempati posisi ke-2 Hybrid EV Toyota terlaris Januari-November 2025. Luxury MPV Toyota Alphard HEV mengikuti di posisi ke-6 dengan total penjualan 1.756 unit.

 

Efisiensi Mesin Bensin Hybrid Toyota Sangat Tinggi

Salah satu keunggulan mobil hybrid Toyota adalah efisiensi mesin bensin yang sangat tinggi. Dimulai dari Toyota Hybrid System (THS) Gen-1 hingga sekarang sudah memasuki generasi ke-5 yang dipakai oleh Kijang Innova Zenix HEV. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi mesin supaya dapat menekan emisi semaksimal mungkin.

Di Indonesia sendiri, rekam jejak mobil hybrid Toyota dimulai sejak kehadiran Toyota Prius di tahun 2009. Dalam kurun waktu tersebut, Toyota mengembangkan teknologi hybrid yang dapat beroperasi dengan baik di Indonesia dan sesuai kebutuhan mobilitas pelanggan tanpa perlu mengubah gaya hidupnya.

 

Mesin Atkinson Cycle yang Lebih Efisien

Dikutip dari Pressroom Toyota Indonesia, Toyota memilih Atkinson cycle dengan prinsip kerja yang sedikit berbeda namun signifikan manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi mesin ketimbang Otto cycle mesin ICE pada umumnya.

Secara garis besar, kedua siklus sama yakni mesin pembakaran dalam 4 siklus kerja. Bedanya terkait kinerja katup yang mengatur masuknya BBM dan udara (katup isap) dan gas buang hasil pembakaran (katup buang) yang diatur untuk meningkatkan efisiensi mesin.

Pada Atkinson cycle, intake valve atau katup masuk tertutup lebih lambat saat langkah isap daripada siklus Otto. Ketika piston sudah mulai bergerak ke atas untuk memulai langkah kompresi, katup masuk masih membuka yang menyebabkan sejumlah campuran udara dan bahan bakar dikeluarkan lagi dari ruang bakar menuju saluran masuk.

Teknologi Dual VVT-i yang mengatur timing intake valve, membuat siklus Atkinson memiliki beberapa kelebihan dibanding siklus Otto pada ICE (Internal Combustion Engine) biasa. Sehingga, semua HEV Toyota menggunakan engine jenis ini.

Seperti bahan bakar yang dipakai relatif lebih sedikit karena proses kompresi yang lebih pendek, efisiensi thermal mesin lebih tinggi, emisi lebih rendah akibat temperatur gas buang lebih rendah, dan menyediakan udara bertekanan pada siklus selanjutnya. Mirip prinsip kerja turbo akibat intake valve terlambat menutup.

 

Improvement pada Toyota Hybrid System

Menggunakan Series-Parallel Hybrid System, Toyota Hybrid System (THS) merupakan pengendali hybrid engine Toyota. Pengalaman panjang mengembangkan HEV membuat THS sanggup memberikan efisiensi mesin yang secara halus dan tanpa jeda berpindah antara penggerak mesin bensin dan motor listrik. 

Dari generasi ke generasi, THS meningkatkan sinergi keduanya dalam memperoleh efisiensi terbaik sehingga hemat BBM. Sepanjang kapasitas baterai hybrid masih memadai, sistem akan memaksimalkan operasional motor listrik, khususnya dalam kondisi stop and go di jalan perkotaan. 

Mesin bensin baru akan bekerja saat mobil membutuhkan tenaga lebih kuat atau kapasitas baterai berada di titik pengisian. Mesin bensin dan motor listrik bahu-membahu menyalurkan tenaga sehemat mungkin tapi tetap optimal, seperti saat menyalip, di tanjakan, serta cruising di jalan tol. 

Fitur Energy Regenerative Brake System berfungsi untuk mengubah tenaga kinetik saat pengereman menjadi energi listrik untuk mengisi daya baterai lewat motor listrik. Sehingga, tidak ada tenaga terbuang karena energi berlebih dari motor listrik akan disalurkan untuk mengisi baterai.

Tenaga dari mesin bensin dan kedua generator listrik dihubungkan oleh Power Split Device (PSD). Komponen yang sekaligus bertindak sebagai transmisi ini, menggunakan girboks khusus dalam tugasnya membagi distribusi tenaga dari mesin bensin, motor listrik, dan generator listrik.

Ada sistem planetary gear di dalamnya yang menjaga supaya penyaluran tenaga dari berbagai sumber tersebut dapat berlangsung optimal dan tanpa jeda. PSD memakai roda gigi yang dikenal ‘badak’ dan lebih sigap dalam menyalurkan tenaga. Ditambah kerugian mekanis yang lebih rendah.

EV Mode memberikan pengalaman unik mengemudi mobil listrik yang nol emisi, senyap, dan tanpa BBM. Bermodalkan baterai dengan kapasitas tinggi dan pengisian cepat, membuat mode EV dapat bekerja lebih lama sehingga menekan konsumsi BBM dan mereduksi emisi di taraf maksimal.

Toyota juga meningkatkan kinerja komponen-komponen untuk mendukung tercapainya efisiensi mesin. Seperti desain motor listrik yang dibuat lebih kompak namun tambah powerful. Termasuk pula pada ukuran dan kapasitas baterai supaya lebih efektif dalam menyalurkan tenaga ke motor listrik.

Bermodalkan sinergi antara berbagai teknologi terkini tersebut, Toyota mengklaim emisi mobil hybrid turun sekitar 50% dari versi konvensional. Selain itu, sistem pengisian baterai yang berkelanjutan membuat pelanggan terbebas dari range anxiety lantaran daya baterai tidak akan habis di jalan.